Tag Archives: saat musim panas di Qatar

Suka dan Duka Menemani Hidup di Qatar

Image

Which one do you like to hear first, good news or bad news? hoho. Tinggal di luar negeri memang tidak terlepas dari suka dan duka yang mengiringi. Layaknya hidup yang rodanya terus berputar, kita mendapati diri kita terjatuh dalam kesulitan, tapi bukankah dalam kesulitan terkandung hikmah. Masalah bisa manis, apabila kita menghadapi dengan lapang dada dan hati terbuka.

Berhubung judulnya suka dan duka, maka yang kita bahas adalah suka terlebih dahulu dan baru kemudian dukanya; kebahagiaan yang didapat ketika memutuskan hidup di Qatar.

1. Alhamdulillah keuangan tercukupi
Qatar adalah salah satu negara terkaya yang bahkan tingkat GDPnya tertinggi di dunia tahun 2010 – sekarang, menurut World Bank, IMF dan University of Pennsylvania. Dikarenakan hal ini maka kami sebagai expat pekerja migran juga kebagian dan tepercik rejeki. Perusahaan-perusahaan migas di Qatar berani menggaji 5x s/d 10x gaji dari perusahaan-perusahaan migas dan petrochemical yang ada di Indonesia. Dengan iming-iming di antara lain berupa: basic salary memadai kalaulah tidak dibilang menggiurkan, asuransi kesehatan dan biaya pendidikan gratis, juga perumahan yang disediakan perusahaan beserta isinya. Walah, tentunya banyak yang tergoda.

2. Keamanan lebih terjamin
Di Qatar tingkat keamanan cukup tinggi. Saya yang cenderung overprotective (harus terus selalu membenahi diri, red) pada anak-anak sekarang lebih bisa bernafas lega. Saya mensyukuri hal ini, kasihan juga dulu anakku Najla yang tidak pernah lepas dari saya atau neneknya ataupun si mbak baby sitter yang bertugas selalu menemaninya. Saya terlalu takut waktu itu karena berita-berita koran yang begitu mengerikan. Sekarang Alhamdulillah asal ia meminta ijin, saya biarkan ia bermain bersama-sama temannya tak peduli ia berbangsa India, Indonesia, Malaysia, Amerika, Mesir, Inggris, Filipina, dll. Biarkanlah anak-anak mewarnai kisah mereka dan menikmati hidup tanpa mengerti arti perbedaan bangsa dan warna kulit.
Penduduknya juga cenderung jujur. Waktu dulu pernah ada teman yang ketinggalan kamera digital terbarunya di taksi, si teman yang barusan tinggal di Doha sudah berniat mengikhlaskan. Esoknya, si pengemudi taksi mengembalikan kamera miliknya. Alhamdulillah, kalau rejeki emang tidak akan kemana. Kalau saya terkadang masih mengalami, seperti kejadian barusan saja anak ketinggalan tas miliknya yang berisi dompet, dikejar oleh petugas kebersihan yang bertugas di food court mall Villagio. Segala puji bagi Allah, masih rejeki.

3. Pergi ke Baitullah
Perjalanan umrah dan haji lebih dekat dan lebih mudah. Sejujurnya, hal ini adalah pertimbangan utama suami dan saya ketika memutuskan pindah dari Indonesia. Masjidil Haram adalah masjid terindah yang pernah saya jumpa. Terindah menurut saya baik dari segi fisik, maupun dari segi pengalaman spiritual yang telah dialami. Semoga selalu bisa berjalan dalam garis petunjuk Allah Tabaraka wa ta’ala.

Continue reading