Category Archives: Tumbuh Kembang Anak

Pendidikan Seks – ala Keluarga Simple

Pattern Image

Photo credit : Google Images

Orang tua seharusnya peka dalam mendiskusikan dan menjelaskan hal yang berkaitan dengan seks kepada anak. Pembekalan tentang seks ini krusial terutama bila kita sisipkan pelajaran amat penting yakni Agama, juga Biologi dan Psikologi ketika membahasnya. Belajar tentang seks ini terutama kita jelaskan apa yang akan timbul atau dampak dari aktivitas seks tersebut, dan dimulai dengan pembelajaran kesehatan reproduksi kepada anak.

Anak usia 0 s/d Prasekolah

Pengertian seks dalam istilah medis adalah jenis kelamin, yang berarti laki-laki dan perempuan. Islam sebenarnya sudah memberikan pendidikan seks sejak lahir dengan cara membedakan jumlah hewan dalam perayaan Aqiqah. Jika mendapatkan anak perempuan, hewan kambing yang dipotong yakni satu ekor sedangkan 2 ekor jika memperoleh anak lelaki.

Untuk anak prasekolah bisa diterangkan secara sederhana bahwa ada perbedaan lawan jenis. Kalau laki-laki misalnya berjenggot, memakai celana panjang, dan berambut pendek. Sedangkan perempuan memakai rok (gamis), rambut cenderung lebih panjang, dan mengenakan jilbab.

Mengenai asal usul anak juga bisa dijelaskan dengan cara menunjuk perut sang ibu yang lagi hamil. Jelaskan bahwa dari sinilah si anak dulunya berasal.

Anak Usia Sekolah Dasar Terutama Kelas 5-6-7 (Memasuki usia Remaja)

1.  Keterbukaan antara orang tua dan anak (atau sebaliknya).

2.  Perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

3.  Pengenalan bagian tubuh, organ dan fungsinya.

4.  Pembelajaran sistem organ seks secara sederhana.

5.  Pengenalan istilah bahasa ilmiah seperti pemakaian kata seperti penis, vagina.

6.  Cara merawat kesehatan dan kebersihan organ tubuh, termasuk organ seks/reproduksi.

7.  Mengajarkan anak untuk menghargai dan melindungi tubuhnya sendiri.

8.  Mempersiapkan anak untuk memasuki masa pubertas.

9.  Proses terjadinya mimpi basah pada anak lelaki.

10. Proses terjadinya menstruasi pada anak perempuan.

sex-education

 

 

 

 

 

Pada Anak Rentang Sekolah Menengah Pertama

1. Menjelaskan sistem organ seks dengan cukup detil dibandingkan pada anak usia sekolah dasar.

2. Proses kehamilan dan persalinan agak detil.

3. Memperluas pembicaraan yang dibahas di sekolah dasar yakni identitas remaja, pergaulan, dari mana dirimu berasal, proses melahirkan, dan tanggung jawab moral dalam pergaulan.

4. Menjelaskan bahaya seks bebas selain kehamilan, juga ada bahaya dari penyakit menular seksual.

Anak Usia Sekolah Menengah Atas

1. Hal-hal yang telah dijelaskan di atas lebih dipahami secara lengkap dan bijak. Juga ditambah bahaya penyakit menular teutama HIV/AIDS.

2. Pemahaman secara psikologi antara pria dan wanita, mengerti keluarga dari segi sosiologi, pergaulan antara pria dan wanita, serta penilaian etis yang bertanggung jawab seputar masalah seks dan moral.

 

Anak Dengan Segala Golongan Usia

Kita perlu protektif terhadap anak dengan cara membekali mereka dengan ilmu. Kita berikan pengertian bahwa dirinya dan tubuhnya amat berharga. Pengertian bahwa tidak sembarang orang bisa menyentuhnya.

Contoh konkrit dari arti perbedaan sentuhan:

  • Sentuhan baik –> atas bahu dan bawah lutut
  • Sentuhan membingungkan –> bawah bahu dan atas lutut
  • Sentuhan buruk –> sentuhan yang meliput bagian tubuh yang tertutup pakaian renang (Underwear rule)

Kesimpulan

Orang tua perlu memahami tujuan dan manfaat dari pendidikan seks. Kenyataannya masih ada yang menganggap pendidikan seks tidak diperlukan, sebab akan mengarahkan ke arah negatif. Apalagi juga orang tua sulit untuk terbuka dan memulai materi ini pada anak, sehingga akhirnya pendidikan seks dianggap tabu. Sesungguhnya dialog seks perlu dibangun, terutama dalam keluarga. Selain tentunya bantuan bimbingan dari pihak sekolah anak mengenai sex education juga memberikan kontribusi yang penting bagi perkembangan si anak didik.

Catatan:

* Perlu juga diperhatikan karakter sang anak dalam memberikan pendidikan seks ini.

* Sebagai orang tua, kita harus lebih siap ditengah gempuran informasi yang terkadang jalannya terlampau cepat.

Dirangkum dari berbagai sumber sekaligus #self note, #selftalk.

 

 

Komunikasi Efektif Dengan Anak

abc

Pada tanggal 1 Maret 2013, kami (keluarga simple) mengikuti workshop yang bertema,“Effective Communication in Child Care or Parenting” oleh bu Elly Risman M.Psi. Acara seminar ini diadakan di Doha, tepatnya di Moza Centre. Mengikuti petunjuk yang dititipkan oleh bu Elly Risman sendiri yakni bahwa hendaknyalah ilmu parenting yang kami dapat hari itu dibagikan saudara, tetangga, colleague, dan orang-orang yang berada di sekitar kita, maka inilah hasil yang berusaha kami rangkum berupa tulisan berikut.
Ketika kita menjadi orang tua, sering kali kita tidak siap melakukan peran sebagai orang tua karena menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Ketika kita memperoleh anak kita tidak disertai manual cara membesarkannya, yang tentunya berbeda ketika kita membeli sebuah smartphone maupun TVFlat yang semuanya disertai manual pemakaiannya. Oleh karena itu, kita sebagai orang tua harus senantiasa belajar, sehingga tercapailah pedoman yakni “Sukses di tempat kerja, Bahagia di keluarga”.

Continue reading

Cara dan Tahapan Penerapan Disiplin Pada Anak

mom_talking_to_child1

Marilah kita membahas topik yang sangat seru yakni kedisiplinan. Kita tentunya sering mendengar istilah mendisiplinkan anak, baik itu di lingkungan kita, antar sesama orang tua, bahkan di sekolah. Disiplin berasal dari satu kata dari bahasa Latin yakni Discipulus, yang berarti pemuridan atau cara kita memberikan contoh; cara kita mengangkat seorang murid. “Bagi anak, orangtua adalah pahlawan dan contoh bagi mereka, dan jika kita memberi contoh yang negatif dan agresif maka mereka pun akan mencontohnya,” ungkap Jennifer A. Powell-Lunder, psikolog anak dalam artikelnya, Kids and Discipline: What You do and Say Matters. Begitu pula sebaliknya, maka gunakanlah cara pendisiplinan yang positif.

Apakah tujuan pendisiplinan ini?
Pelatihan pikiran dan karakter anak secara bertahap, sehingga ia bisa menjadi orang yang memiliki kontrol diri dan akhirnya bisa diterima oleh lingkungannya, bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Mengapa secara bertahap saya tekankan? Hal ini dikarenakan disiplin bukan berarti pelatihan melalui hukuman. Hukuman adalah hanya salah satu dari sekian banyak tahapan atau bahkan cara terakhir agar sang anak mampu memiliki kontrol diri yang baik.
Satu hal yang perlu dicermati adalah agar orang tua tidak terjebak dalam disiplin negatif yang dapat merusak harga diri anak. Orang tua sebaiknya sangat berhati-hati dalam penerapan disiplin dengan menggunakan rasa bersalah pada anak. Jangan terlalu banyak anak dicontohkan, “Tuh kan kamu seharusnya tidak seperti itu, jadinya luka. Tuh kan bahaya dapat menyebabkan kematian.” Hal ini yang merupakan penerapan disiplin dengan rasa bersalah yang terlalu banyak dapat menghilangkan rasa percaya diri pada anak sehingga ia merasa sebagai orang yang tak berguna, buktinya yang dikerjakan selalu salah dan akhirnya dapat menimbulkan apatisme pada anak.

Continue reading