Category Archives: Pendidikan

Sekolah Anak di Qatar

Sering kali kita dihadapkan pada pilihan untuk memilih sekolah bagi buah hati kita yang mana merupakan pilihan yang susah-susah gampang bagi kita sebagai orang tua. Artikel ini ditulis agar memberikan informasi pada teman-teman yang akan pindah ke Qatar sehingga setidaknya, ada gambaran mengenai tipe sekolah-sekolah di Qatar dan apa saja yang perlu dipersiapkan nantinya sekaligus bahan pertimbangan.

Image

Ada 3 tipe sekolah di Qatar:
1. Independent School
Sekolah ini merupakan sekolah yang kurikulumnya disusun oleh SEC (Supreme Education Council) dengan bahasa Arab sebagai bahasa pengantar sedangkan Bahasa Inggris, Matematika, Pelajaran Agama Islam, dan Ilmu Fisika (Sains) sebagai mata pelajaran wajibnya.
Tahapan di sekolah ini terbagi lagi menjadi:
a. Kindergarten (KG) – Umur 3-5 atau 6 tahun
b. Primary – Kelas 1-6 – Umur 5/6 s/d 11 tahun
c. Prepatory – Kelas 7-9 Umur 12-14
d. Secondary – Kelas 10-12 Umur 15-18
Sebenarnya ada lagi satu yakni Public/Government School. Kenyataannya banyak Public School yang beralih menjadi Independent School di Qatar ini. Bagi para Qatari yang bersekolah di sekolah macam ini, maka segalanya dibiayai oleh negara alias gratis dari tingkat KG (TK) hingga akhir Secondary (SLTA). Ada juga anak-anak dari ustad yang bekerja di masjid-masjid di Qatar sebagai muadzin atau imam, kemungkinan bersekolah di sekolah jenis ini. Bahasa Arab tentunya harus mumpuni sebagai prasyarat.

Continue reading

English Irregular Verbs

English Irregular Verbs (Kata Kerja Tak Beraturan)

Barusan saja saya membuka-buka buku pelajaran bahasa Inggris semasa saya kuliah dulu. Buku itu terlihat tua diantara buku-buku saya yang lain. Hal ini menimbulkan ide tentang menuliskan kata kerja terutama yang tidak beraturan yang umumnya kita pakai.
Kalau kata kerja beraturan sungguh gampang, kita tinggal menambahkan ‘-ed‘ dari kata kerja dasar.

Contoh: I walk beyond there.
Past tense: I walked beyond the village.
Past participle (yang dipakai contoh dalam Present Perfect tense):
We have walked beyond the village.

Contoh lain kata kerja beraturan (Regular Verbs) adalah: admire, achieve, accept, bake, believe, cancell, complete, describe, download, deliver, love, touch, watch, wait, witness, wrestle, etc.

Untuk Kata Kerja Tak Beraturan (Irregular Verbs), saya tambahkan kata kerja yang sering kali kita temui dan sering kita baca pemakaiannya pada saat ini.

Continue reading

Cara dan Tahapan Penerapan Disiplin Pada Anak

mom_talking_to_child1

Marilah kita membahas topik yang sangat seru yakni kedisiplinan. Kita tentunya sering mendengar istilah mendisiplinkan anak, baik itu di lingkungan kita, antar sesama orang tua, bahkan di sekolah. Disiplin berasal dari satu kata dari bahasa Latin yakni Discipulus, yang berarti pemuridan atau cara kita memberikan contoh; cara kita mengangkat seorang murid. “Bagi anak, orangtua adalah pahlawan dan contoh bagi mereka, dan jika kita memberi contoh yang negatif dan agresif maka mereka pun akan mencontohnya,” ungkap Jennifer A. Powell-Lunder, psikolog anak dalam artikelnya, Kids and Discipline: What You do and Say Matters. Begitu pula sebaliknya, maka gunakanlah cara pendisiplinan yang positif.

Apakah tujuan pendisiplinan ini?
Pelatihan pikiran dan karakter anak secara bertahap, sehingga ia bisa menjadi orang yang memiliki kontrol diri dan akhirnya bisa diterima oleh lingkungannya, bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Mengapa secara bertahap saya tekankan? Hal ini dikarenakan disiplin bukan berarti pelatihan melalui hukuman. Hukuman adalah hanya salah satu dari sekian banyak tahapan atau bahkan cara terakhir agar sang anak mampu memiliki kontrol diri yang baik.
Satu hal yang perlu dicermati adalah agar orang tua tidak terjebak dalam disiplin negatif yang dapat merusak harga diri anak. Orang tua sebaiknya sangat berhati-hati dalam penerapan disiplin dengan menggunakan rasa bersalah pada anak. Jangan terlalu banyak anak dicontohkan, “Tuh kan kamu seharusnya tidak seperti itu, jadinya luka. Tuh kan bahaya dapat menyebabkan kematian.” Hal ini yang merupakan penerapan disiplin dengan rasa bersalah yang terlalu banyak dapat menghilangkan rasa percaya diri pada anak sehingga ia merasa sebagai orang yang tak berguna, buktinya yang dikerjakan selalu salah dan akhirnya dapat menimbulkan apatisme pada anak.

Continue reading