Manisnya Hidup Setelah Lelah Berjuang di Qatar

Manisnya Hidup di Qatar

Gambar: Suasana cafe di Museum of Islamic Art

Qatar adalah sebuah negara di padang pasir yang berpenduduk mayoritas muslim dengan bentuk pemerintahan monarki. Hanya itu yang ku tahu, sebelum menginjakkan kakiku di negara yang kepala negaranya disebut Emir ini. “Dua atau maksimum tiga tahun,” ujarku dalam hati sembari menenangkan diri saat memulai perjalanan kami merantau di negeri orang jauh dari Indonesia tercinta. Waktu terus berjalan, perjalanan hidup terus bergulir, ternyata ada yang berubah dalam janjiku mengenai lamanya kami hidup di negeri Katara ini. Seiring dengan perkembangan Qatar menjadi negara yang semakin maju dan terbuka, semakin pula aku mengagumi kehebatan Qatar dalam memanfaatkan dan benar-benar mengeksplorasi apa yang dimilikinya, semakin pula aku jatuh cinta pada negara yang panasnya mencapai 55 derajad Celcius di kala musim panas ini. Wow.

Hidup di negara orang tentu tak terlepas dari kisah suka dan duka. Mendung yang sering kualami adalah kerinduan pada kedua orang tuaku terutama ibunda yang terkadang sakit-sakitan. Hati terasa pedih menusuk kalbu mengingat kebaikan dan pengorbanan cinta mereka terhadapku, sedang aku belum mampu membalasnya. Selama ini yang kulakukan hanyalah mengadu pada Yang Maha Mendengar si Pengabul Segala Doa dan menguatkan hati. Bukankah dengan menjadi istri yang taat pada suami, mendampinginya dalam susah senang, juga akan membuat kedua orang tuaku mendapatkan pahala di sisi-Nya? Amin Allahuma Amin. Demikian yang sering terngiang di telingaku sembari menatap biji mata anak-anakku cahaya hatiku. Beruntung sekali saya hidup di era canggih, komunikasi dapat dijalankan dengan mudah melalui video chat, rasa kangen tak berjumpa pun dapat terobati sementara sebelum pulang kampung di liburan musim panas. Selain itu, tentu saja masakan Indonesia yang lezat nan nikmat kerap menumbuhkan rasa rindu. Untung saja di dunia yang serba “just a click away” ini, semua bisa dipermudah. Dengan browsing sana sini, maka jadilah masakan rumah yang tak kalah lezat dengan yang kuinginkan, pula terjamin kebersihannya.
Sebenarnya hidup di mana saja, pastilah masalah dan rintangan akan menghampiri, dimanapun itu. Sejatinya, tinggal manusianya yang dapat menghadapi dan mengambil hikmahnya. Tuhan akan memberikan cobaan padamu yang akan membuat dirimu semakin tangguh, percaya itu.

Kehidupanku di Qatar tentu tidak hanya mengenai duka dan kerinduan tak terbendung, ada juga suka cita yang mewarnai lembaran hari demi hariku. Hal yang teramat ku syukuri dengan hidup di Qatar adalah tingkat kriminalitas yang rendah. Aku merasa lebih aman dan nyaman di rumah, anak-anak bermain di Playground yang disediakan perumahan tempat tinggal kulepas dengan perasaan lebih tenang. Bahkan suami terikut kebiasaan orang-orang Qatar asli, yang apabila turun ke toko atau supermarket, AC mobil tetap dinyalakan dengan kunci mobil tetap melekat di tempatnya. Alhamdulillah, semua aman-aman saja selama aku tinggal 5 tahun di Qatar, belum pernah kulihat atau kubaca berita pencurian mobil. Hal kedua yang amat kusukai dari Qatar adalah negeri yang family friendly, kalau memakai istilahku. Qatar membangun dan menyediakan taman-taman berhamparkan rumput menyerupai permadani hijau dengan pohon-pohon kurma juga pepohonan tinggi lainnya yang disertai arena tempat bermain anak-anak nan lengkap. Anak-anak Arab, non Arab baik anak-anak Asia maupun Western terlihat berseliweran berlari menikmati masa-masa indah mereka tanpa beban, lepas. Taman yang indah ini juga dilengkapi dengan fasilitas internet wi-fi free of charge. Di taman seperti inilah kami sering berpiknik ria menikmati hari libur dan menghirup udara laut. O ya, taman-taman ini banyak yang merupakan hasil reklamasi pantai, jadi bisa dibayangkan indahnya taman di dekat pantai. Selain itu, di mall-mall juga menjadikan hari Jumat sebagai family day.

Bisa hidup dan tinggal di Qatar merupakan hal menarik baru yang memberi warna dalam hidupku. Mengamati perubahan Qatar dari negara yang semula mata pencaharian penduduknya adalah pencari mutiara di laut, lalu menjadi salah satu negara terkaya yang penghasilan utamanya migas adalah hal menarik. Maka dari itu, aku berusaha mengembangkan hobi baru yaitu fotography. Tujuanku bisa menangkap dan mengabadikan apa yang kulihat dan kurasakan menarik dari sudut pandang diriku.
Mengamati penduduk asli yang begitu modern dan kelihatan tak bisa lepas dari gadget, namun berusaha tetap memegang erat kebudayaan asli mereka adalah hal yang menakjubkan bagiku. Tak heran sering kutemui, Qatari yang mengemudikan mobil sporty mewah dan memakai baju thobe licin lengkap dengan ghutra berumbai di kepala dalam perjalanan menuju kantornya yang serba resmi. Benar-benar perpaduan modernisasi dan kultur asli yang berasimilasi dengan indah, bukan begitu?

Hidup dan tinggal dinegara orang memang membutuhkan penyesuaian diri, kemampuan beradaptasi yang tidak mudah dan harus selalu diasah senantiasa. Ada satu petunjuk yang kuingat dari orang terhormat, Imam Syafií di kala ku sedih. “Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan.” demikian yang pernah ditulis oleh beliau. Beliau juga memberikan wejangan, “Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.” Itulah yang sering menjadi pemompa semangatku dalam menjalani hidup di tanah rantau ini. Indonesia tentunya tetap memiliki kesan manis di hati. Indonesia, tunggulah kami, suatu saat putra-putrimu akan kembali. Pasti..

#Ditulis ketika kerinduan kampung halaman membuncah di dada, sekaligus mengikuti lomba menulis dengan tema, “Menikmati Hidup di Qatar”#  Oleh: Yogha Debby Ummu Avicenna.

3 thoughts on “Manisnya Hidup Setelah Lelah Berjuang di Qatar

  1. Amank Qadafi

    Sangat bermanfaat, Mbak. Jadi tertarik kerja disana. Dan sedang mencari kerjaan disana, semoga dapet kerjaan yang sesuai dengan bidang saya, Staff administrasi dan Bisnis. Amin.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s